Menjadi Shaleh

January 9th, 2009

Menjadi manusia itu pasti, tetapi menjadi shaleh adalah pilihan. Memilih untuk memberi. Bukan berfikir untuk meminta. Padahal pada umumnya manusia cenderung mencari untung buat dirinya. Egois. Tapi ketahuilah, justru dengan memberi kita menjadi memiliki.

Miliki harta sejati dengan berinfak. Miliki cinta dengan memberikan perhatian. Miliki kesempatan dengan beramal. Miliki cita-cita dengan karya. Miliki kesuksesan dengan proses berkesinambungan. Miliki waktu dengan berbakti. Miliki hati dengan berbagi. Miliki kepercayaan dengan keteladanan. Miliki keikhlasan dengan ketulusan. Dan miliki kebahagiaan akhirat dengan amal manfaat.

Pahlawan sejati hadir dengan berkarya. Waktu kita sama. Sama sedikitnya. Yang berbeda cara mengelola, memanfaatkan dan mengisinya. Kalau mereka berfikir untuk berkarya, kita baru berfikir untuk memotivasi diri membaca karya mereka susahnya luar biasa.

Kehidupan para ulama dan shalafush shalih penuh dengan kontribusi. Sebut saja, Imam Syafi’i dengan kitab Al-Umm. Imam Bukhari menyumbangkan Kitab Shahihnya. Mereka bukan hanya berkarya dengan kata-kata, tapi sekaligis dengan berjihad, wara’ dalam harta, hati-hati terhadap tipu daya harta dan wanita (naudzubillahi min dzalik), tak berambisi pada popularitas dan jabatan.

Marilah kita berupaya meningkatkan kapasitas diri pribadi menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Belajar dan berlatih menguasai banyak keahlian dan ketrampilan agar dapat memberikan peran, sumbangan dan perhatian. Inilah energi keshalihan yang akan menghidupkan jiwa dan menghasilkan karya. Semoga kita selalu diberi-Nya petunjuk dalam hidup dalam menjadikan hidup lebih berarti. Amien Allahumma Amien…

Penulis:Solikhin Abu Izzudin

Judul Buku : Zero to Hero

Penerbit : Pro-U Media

Bayi

January 3rd, 2009

Kehidupan bayi dalam kandungan ibu, dapat diibaratkan hidup yang penuh kenyamanan. Segala sesuatu mudah diperoleh dan penuh dengan pengakuan. Namun, semua itu ada batasnya dan tidak ada yang abadi. Begitu dilahirkan ia berjuang untuk bisa “hidup sendiri” tanpa membawa serta fasilitas yang digunakan selama dalam kandungan. Misalnya ari-ari yang justru dikubur keluarganya. Ketika masih di dalam kandungan, segalanya tersedia dengan aman dalam lingkungan yang kondusif. Suhu udara diatur, makanan selalu cukup, oksigen sangat memadai dan tingkat kebisingan pun terkendali karena peran ibu yang mengandung sangat besar di sini.

Mengambil analogi sang bayi tersebut, kehidupan manusia pun ternyata memerlukan waktu dan upaya maksimal untuk menyesuaikan diri di tempat yang baru. Misalnya, seorang anak yang  merencanakan merantau untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi di kota lain harus bersiap-siap meninggalkan kenyamanan yang selama ini diperoleh di rumah. Hidup dalam lingkungan kos-kosan tentu berbeda dengan hidup di rumah sendiri yang segalanya serba tersedia. Hal serupa juga terjadi ketika seseorang memutuskan untuk membangun keluarga/menikah, ia harus bersiap diri untuk meninggalkan kenyamanan yang dialaminya selama ini, masuk dalam tempat baru bersama orang lain dalam  tantangan yang baru.

Belajar dari sang bayi, setiap manusia dituntut untuk mandiri dan tidak bergantung atau bersandar kepada orang lain. Bayi tidak selamanya minum ASI, dia akan berkembang makan bubur, nasi, dan makanan keras lainnya. Demikian pula manusia, setiap individu yang mandiri, ia tidak akan puas dengan tantangan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Semakin hari semakin tumbuh, baik dari segi kompetisi maupun unjuk kerjanya.”Tua sudah pasti, dewasa adalah pilihan.”

Judul buku : Setengah Isi Setengah Kosong

Penulis : Parlindungan Marpaung

Penerbit : MQS Publishing