Bayi

January 3rd, 2009

Kehidupan bayi dalam kandungan ibu, dapat diibaratkan hidup yang penuh kenyamanan. Segala sesuatu mudah diperoleh dan penuh dengan pengakuan. Namun, semua itu ada batasnya dan tidak ada yang abadi. Begitu dilahirkan ia berjuang untuk bisa “hidup sendiri” tanpa membawa serta fasilitas yang digunakan selama dalam kandungan. Misalnya ari-ari yang justru dikubur keluarganya. Ketika masih di dalam kandungan, segalanya tersedia dengan aman dalam lingkungan yang kondusif. Suhu udara diatur, makanan selalu cukup, oksigen sangat memadai dan tingkat kebisingan pun terkendali karena peran ibu yang mengandung sangat besar di sini.

Mengambil analogi sang bayi tersebut, kehidupan manusia pun ternyata memerlukan waktu dan upaya maksimal untuk menyesuaikan diri di tempat yang baru. Misalnya, seorang anak yang  merencanakan merantau untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi di kota lain harus bersiap-siap meninggalkan kenyamanan yang selama ini diperoleh di rumah. Hidup dalam lingkungan kos-kosan tentu berbeda dengan hidup di rumah sendiri yang segalanya serba tersedia. Hal serupa juga terjadi ketika seseorang memutuskan untuk membangun keluarga/menikah, ia harus bersiap diri untuk meninggalkan kenyamanan yang dialaminya selama ini, masuk dalam tempat baru bersama orang lain dalam  tantangan yang baru.

Belajar dari sang bayi, setiap manusia dituntut untuk mandiri dan tidak bergantung atau bersandar kepada orang lain. Bayi tidak selamanya minum ASI, dia akan berkembang makan bubur, nasi, dan makanan keras lainnya. Demikian pula manusia, setiap individu yang mandiri, ia tidak akan puas dengan tantangan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Semakin hari semakin tumbuh, baik dari segi kompetisi maupun unjuk kerjanya.”Tua sudah pasti, dewasa adalah pilihan.”

Judul buku : Setengah Isi Setengah Kosong

Penulis : Parlindungan Marpaung

Penerbit : MQS Publishing




Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind