Paksa Diri Untuk Unggul

February 12th, 2009

Waktu itu, ada anggapan di sekolah, siswa dengan nilai C atau rata-rata yang belajar hanya sekedar bisa lulus ujian juga bisa tamat seperti siswa lain yang belajar keras untuk mencapai angka A. Tapi, antara kedua siswa ini terdapat perbedaan yang lebih besar ketimbang sekadar 2 huruf nilai. Untuk menjadi unggul, siswa yang mendapat nilai A harus mengatasi banyak hambatan. Beberapa di antaranya sampai harus mengerahkan usaha ekstra.

Apakah kita harus lulus dengan angka pas-pasan atau terus menerus menentang diri sendiri untuk menjadi yang terbaik, masalahnya melebihi sekadar urusan akademis. Itu merupakan peluang untuk menunjukkan kualitas kemanusiaan dan memilih jalan yang kita inginkan dalam menjalani hidup ini.

Jika anda ingin unggul dalam hidup, Anda harus bersedia menghadapi banyak hambatan. Yang paling besar adalah pikiran Anda sendiri yang cenderung mencari kesenangan dan kemudahan.

Penyangkalan diri menuntun Anda mengatasi hambatan-hambatan dan mengunggulinya. Adalah susah untuk mendorong diri kita maju karena secara alamiah kita lebih menyukai cara mudah. Tapi, kesadaran akan hal ini membuat kita merasakan kegembiraan yang lebih besar ketika melihat usaha kita telah berubah.

Keterampilan terbesar adalah kemampuan untuk menaklukkan diri sendiri

Menaklukkan Diri Sendiri

February 12th, 2009

Kita semua mengenal 2 jenis siswa. Yang pertama adalah yang tidak terlalu cerdas tapi bekerja keras saat sekolah untuk bisa lulus dengan mendapat penghargaan. Yang kedua adalah yang tergolong playboy dengan kecerdasan tinggi yang berkibar di sekolah tanpa banyak membuang buku. Golongan kedua ini berkata, “Kutu buku itu mendapat nilai tinggi, tapi, jika saya mau belajar seperti dia, pasti dia bukan tandingan saya.”

Setelah lulus, golongan playboy bertemu dengan teman lain yang sukses di bisnis, dan mengamatinya, “Dia dulu itu Cuma mediocre di sekolah. Nilai saya jauh di atas dia.” Membayangkan jika dia berada dalam situasi seperti temannya, dia pasti akan lebih baik.

Tapi, benarkah demikian? Menjadi kutu buku adalah menaklukkan bagian dari diri yang ingin segera mendapatkan kesenangan, dengan tidak mengikuti pesta bahkan tidak menonton tv. Teman yang sukses itu mungkin juga telah melakukan pengorbanan yang sama. Dia harus menaklukkan keinginannya untuk bersenang-senang dan mengabdikan dirinya pada pekerjaannya. Diperlukan kekuatan besar untuk menaklukkan diri sendiri. Ketika menilai kemampuan seseorang, kita harus perhitungkan juga kemauannya. Jika seseorang telah kehilangan pertarungan dengan diri sendiri dan mengikuti jalan mudah, kemampuannya pasti berkurang.

Kemampuan kita unuk berhasil di sepanjang perjalanan hidup tidak tergantung pada kecerdasan saja.